Sukabumi – Pondok Pesantren Modern Dzikir Al-Fath kembali mencetak catatan membanggakan melalui pelestarian seni bela diri tradisional Sunda, Pencak Silat. Lima pesilat dari perguruan Maung Bodas secara resmi dilepas untuk mengemban tugas menjadi pelatih profesional di Sekolah Gracio, Singapura. Pelepasan dilakukan dalam gelaran Pencak Silat Day Al-Fath, Kamis 13 November 2025.
Acara seremonial berlangsung meriah dengan berbagai atraksi khas, termasuk festival jurus Aliran Sang Maung Bodas, pertandingan tradisional Maen Boles, serta Adu Lisung.
Pimpinan Ponpes Modern Dzikir Al-Fath, KH Fajar Laksana, menyampaikan kebanggaannya atas pencapaian tersebut pada 13 November 2025. Ia menegaskan bahwa Pencak Silat Day Al-Fath dan Saresehan Pencak Silihwawangi merupakan agenda rutin yang terus memperkuat eksistensi pencak silat di tingkat lokal maupun internasional.
Fajar menjelaskan bahwa Ponpes Dzikir Al-Fath merupakan pusat pengembangan pencak silat Aliran Sang Maung Bodas, yang menjadi anggota resmi IPSI Kota Sukabumi. Aliran ini telah berkembang luas tidak hanya di Nusantara melalui 24 cabang, tetapi juga di Singapura, Malaysia, Jepang, Kuwait, Turki, serta berbagai negara Eropa dan Amerika.
Menurutnya, kehadiran lima pesilat di Singapura menjadi bagian dari diplomasi budaya Indonesia. Ponpes Dzikir Al-Fath juga rutin menjadi tuan rumah Sunda Pencak Silat Camp, yang diikuti pesilat dari sejumlah negara seperti Italia, Prancis, Jerman, Belanda, dan Inggris.
Fajar menegaskan bahwa aliran Sang Maung Bodas tidak sekadar mengajarkan teknik bela diri, tetapi juga menjadi wadah pelestarian seni dan budaya Sunda. Beberapa praktik budaya dari aliran ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB), termasuk Ngagotong Lisung oleh Provinsi Jawa Barat, serta Maen Boles yang meraih rekor MURI. Selain itu, Jurus Golok Kala Petok dan Upacara Adat Mapag Tamu Agung tengah dalam proses penetapan sebagai WBTB baru.
Fajar menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa Ponpes Dzikir Al-Fath membuktikan peran pesantren yang bukan hanya mencetak ahli agama, tetapi juga duta budaya yang mengharumkan nama bangsa di dunia internasional.









