Ledakan SMAN 72 Diduga Dipicu Pengaruh Media Sosial, Bukan Bullying

BERITA, KRIMINAL316 views

Jakarta – Insiden ledakan yang melukai siswa dan guru SMAN 72 Jakarta pada Jumat, 7 November, kini mulai menemukan titik terang setelah pihak berwajib mengungkap motif pelaku. Gubernur Jakarta Pramono Anung menyatakan pada 14 November 2025 bahwa aksi tersebut tidak dipicu oleh perundungan (bullying), melainkan dipengaruhi tontonan dari media sosial.

Pramono menjelaskan bahwa informasi itu diperolehnya dari keterangan para siswa SMAN 72. Mereka memastikan tidak ada praktik bullying yang melibatkan pelaku sebelum kejadian.
“Teman-teman atau anak-anak kita dari SMA 72 semuanya menyampaikan bahwa tidak ada bullying,” ujar Pramono (14/11/2025).

Ia menambahkan, pelaku diduga mengalami kurangnya pendampingan emosional karena kondisi keluarga yang berpisah. Saat ini pelaku hanya tinggal bersama ayahnya yang bekerja sebagai koki dan sering sibuk.
“Pelakunya ini keluarganya antara bapak-ibunya terpisah. Selama ini dia hidup dengan ayahnya yang bekerja sebagai chef dan sibuk,” kata Pramono.

Lebih lanjut, Pramono mengaitkan tindakan pelaku dengan konsumsi konten dari media sosial. Ia menyoroti temuan tujuh bom rakitan serta gaya berpakaian pelaku saat membawa benda tersebut.
“Kalau melihat dari tujuh bom yang dipersiapkan, cara dia membawa, kemudian pakaiannya kayak Rambo dan sebagainya, ya mungkin ini pengaruh dari YouTube, media sosial,” ujarnya.

Sementara itu, dalam pemeriksaan benda mirip senjata api yang dibawa pelaku, ditemukan tiga nama pelaku teror global yang tercantum pada bagian senjata tersebut. Tiga nama tersebut adalah:

  • Brenton Harrison Tarrant, pelaku penembakan dua masjid di Selandia Baru pada 15 Maret 2019.

  • Alexandre Bissonnette, pelaku penembakan masjid di Quebec City, Kanada, pada 29 Januari 2017.

  • Luca Traini, pelaku penembakan enam migran Afrika di Macerata, Italia, pada Februari 2018.

Pihak berwenang masih menelusuri apakah pencantuman nama-nama tersebut berhubungan dengan motif tindakan pelaku atau hanya meniru konten yang ia akses secara daring. Proses pemeriksaan terus berlanjut untuk memastikan faktor-faktor yang memengaruhi aksi berbahaya tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed