SeputarSukabumi – Sejumlah peristiwa menarik terjadi di Jawa Barat pada Jumat (8/5/2026), mulai dari kasus pembunuhan di Bandung Barat, perjuangan guru di pelosok Sukabumi, hingga dugaan penipuan investasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Ciamis.
Salah satu peristiwa yang menjadi perhatian publik datang dari Kabupaten Sukabumi. Sebuah video memperlihatkan perjuangan seorang guru yang harus melewati jalan rusak, longsoran tanah, dan menyeberangi sungai demi mengajar di wilayah terpencil.
Kondisi tersebut dialami warga Kampung Ciangrek, Desa Mekarasih, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi. Infrastruktur yang rusak akibat bencana sejak Ramadan 2025 hingga kini belum sepenuhnya tertangani sehingga aktivitas masyarakat terganggu.
Dalam video yang beredar, guru SMP Negeri 5 Simpenan, Nano Sumarno, menyampaikan keluhan terkait kondisi akses yang terisolasi selama lebih dari satu tahun. Ia meminta perhatian pemerintah agar segera melakukan penanganan.
“Pak Dedi, Kampung Ciangrek sudah terisolasi lebih dari setahun. Tolong lihat langsung kondisi di sini,” ujarnya dalam rekaman video.
Nano juga menyoroti sulitnya akses menuju sekolah yang harus ditempuh para guru dan siswa setiap hari. Mereka terpaksa berjalan kaki melewati jalur berbatu, tanjakan curam, hingga menyeberangi sungai karena jembatan penghubung hanyut diterjang banjir.
Menurut Nano, para guru harus memarkirkan sepeda motor di area kebun warga sebelum melanjutkan perjalanan sekitar dua kilometer dengan berjalan kaki menuju sekolah.
“Kalau jalan kaki hampir satu jam karena medannya menanjak,” katanya.
Ia menyebut sedikitnya 70 siswa SMP dan sekitar 90 siswa SD terdampak kondisi tersebut. Saat hujan turun, aktivitas belajar terpaksa diliburkan karena arus sungai menjadi berbahaya untuk diseberangi.
“Nggak bisa dipaksakan kalau hujan. Anak-anak dan guru tidak bisa menyeberang,” ungkapnya.
Selain peristiwa di Sukabumi, detikJabar juga menyoroti kasus dugaan penipuan investasi berkedok program MBG di Kabupaten Ciamis. Polisi menetapkan seorang oknum guru PPPK berinisial TC sebagai tersangka dengan total kerugian korban mencapai sekitar Rp384 juta.
Di Kabupaten Garut, kasus pemotongan rambut belasan siswi SMK oleh guru BK juga menjadi perhatian publik dan menuai pro kontra di media sosial. Guru tersebut akhirnya menyampaikan permintaan maaf setelah kasusnya viral dan mendapat perhatian Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.









