Karhutla di Jampangtengah Sukabumi Belum Padam, Bara Masih Muncul dari Sisa Tebangan

SUKABUMI127 views

SUKABUMI – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda kawasan hutan produksi milik Perum Perhutani di wilayah Desa Bojongjengkol, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi. Hingga Senin (10/8/2026) pagi, petugas masih menemukan sejumlah titik yang mengeluarkan asap dan bara.

 

Kebakaran tersebut terjadi di kawasan Perum Perhutani BKPH Bojonglopang, RPH Nangka Tepus, tepatnya di sekitar Gunung Gubug. Luas area yang terdampak diperkirakan mencapai 18 hektare.

 

Petugas Penanggulangan Bencana Kecamatan (P2BK) Jampangtengah, Dadi Supardi, mengatakan kondisi api saat ini sudah jauh lebih terkendali. Berdasarkan pemantauan bersama Tagana dan pihak Perhutani, kobaran api tidak lagi bergerak menuju kawasan lainnya.

 

Meski demikian, proses pemadaman belum sepenuhnya selesai. Asap masih terlihat di beberapa bagian, terutama dari tunggul pohon, ranting, dan potongan kayu yang berada di bekas area penebangan.

 

Kebakaran pertama kali diketahui pada Sabtu (8/8/2026) sekitar pukul 18.00 WIB. Api kemudian membakar kawasan hutan produksi yang sebagian merupakan lahan bekas penebangan pohon pinus.

 

Kepala Desa Bojongjengkol, Nirwana, mengungkapkan kondisi lahan tersebut membuat api relatif mudah menyebar di dalam area yang terbakar. Tumpukan ranting, daun kering, hingga potongan kayu sisa penebangan menjadi material yang mudah terbakar, terlebih saat musim kemarau.

 

Menurutnya, kawasan bekas tebangan memang kerap dimanfaatkan masyarakat untuk kegiatan pertanian setelah proses penebangan selesai. Ia menduga kebakaran kali ini kemungkinan berkaitan dengan aktivitas pembakaran di sekitar lahan tersebut.

 

“Lahannya bekas penebangan kemarin. Biasanya setelah terbakar, bekasnya akan digarap untuk bercocok tanam. Kemungkinan dibakar sama orang jahil,” ujar Nirwana.

 

Nirwana menyebut asap dari lokasi kebakaran sempat terlihat hingga hampir dua hari. Namun, api tidak sampai menjalar ke kawasan lain dan masih terkonsentrasi di sekitar lahan bekas tebangan.

 

Kawasan tersebut sebelumnya merupakan hutan pinus yang cukup luas. Seiring waktu, sebagian wilayah telah dibuka dan dimanfaatkan warga untuk lahan pertanian.

 

Pemerintah desa pun mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau. Pembakaran lahan secara sembarangan dinilai berisiko memicu kebakaran yang lebih besar dan sulit dikendalikan.

 

“Sudah ada larangan, jadi masyarakat harus lebih hati-hati. Jangan sampai ada yang membakar karena sekarang sedang musim kemarau. Kalau ada yang iseng membakar, akhirnya malah merepotkan,” katanya.

 

Di sisi lain, kebakaran dipastikan tidak mengancam permukiman warga. Lokasi karhutla berada cukup jauh dari kawasan perkampungan dan terletak di daerah perbukitan dengan kondisi medan yang terjal.

 

“Kalau untuk ke kampung aman, karena lokasinya jauh dari permukiman,” kata Nirwana.

 

Petugas bersama pihak terkait masih melakukan pemantauan untuk memastikan tidak ada bara yang kembali membesar. Kondisi sisa material kering di kawasan bekas tebangan menjadi salah satu hal yang perlu diwaspadai agar kebakaran tidak kembali muncul.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed