Sukabumi – Memasuki usia ke-81 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus seharusnya tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang sejarah, tetapi juga menjadi ruang untuk bertanya kembali: sudah sejauh mana kemerdekaan kita isi dengan sesuatu yang berarti? Kemerdekaan bukan sekadar terbebas dari penjajahan, tetapi tentang kemampuan sebuah bangsa untuk menentukan masa depannya, membangun kehidupan yang adil, serta menghadirkan kesejahteraan bagi rakyatnya. Karena itu, semangat “Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur” harus diterjemahkan menjadi kerja nyata, bukan berhenti sebagai jargon perayaan.
Merdeka adalah buah dari kolaborasi anak bangsa yang mampu meleburkan keberagaman menjadi kesatuan Bhinneka Tunggal Ika. Indonesia lahir dari keberagaman. Ada begitu banyak perbedaan suku, agama, budaya, bahasa, pemikiran dan latar belakang yang membentuk bangsa ini. Justru karena itulah kolaborasi menjadi penting. Perbedaan tidak harus dilebur menjadi keseragaman, tetapi dipertemukan untuk melahirkan kekuatan baru. Ketika setiap elemen bangsa mampu membawa kelebihan masing-masing dan bekerja untuk tujuan yang sama, keberagaman dapat berubah menjadi energi yang menghasilkan karya, kreativitas dan kemajuan.
Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, semangat kolaborasi juga harus diikuti keberanian untuk berkreasi. Bangsa yang merdeka bukan hanya bangsa yang mampu mempertahankan apa yang telah diwariskan, tetapi juga bangsa yang mampu menciptakan masa depannya sendiri. Pemuda memiliki posisi penting dalam hal ini. Kreativitas, teknologi, gagasan dan keberanian anak muda harus diarahkan untuk menjawab persoalan masyarakat, membuka peluang ekonomi, memperkuat kebudayaan, serta melahirkan inovasi yang memberikan manfaat nyata. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, komunitas, tokoh agama dan pemuda harus menjadi ekosistem yang terus dibangun.
Namun, kemajuan tidak cukup hanya diukur dari seberapa cepat sebuah bangsa berkembang. Ada nilai yang harus menjadi kompas agar kemajuan tetap berada pada jalur yang benar. Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama Pancasila mengingatkan bahwa pembangunan bangsa harus memiliki fondasi moral. Kreativitas membutuhkan tanggung jawab, kebebasan membutuhkan etika, dan kekuasaan membutuhkan amanah. Indonesia yang berdaulat, adil dan makmur bukan hanya Indonesia yang maju secara ekonomi dan teknologi, tetapi juga Indonesia yang memiliki manusia-manusia yang berintegritas, saling menghormati, peduli terhadap sesama dan mampu menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan kelompok.
Dari Kota Sukabumi, semangat itu dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana: membangun ruang perjumpaan, membuka ruang dialog, saling menghargai perbedaan, dan berani mengerjakan sesuatu secara bersama-sama. Khususnya bagi pemuda, jangan biarkan keberagaman menjadi alasan untuk terpecah. Jadikan ia sebagai modal untuk menciptakan sesuatu yang lebih besar. Mari terus menumbuhkan dan menjaga nilai kolaborasi, karena dari keberagaman yang dipertemukan dengan kreativitas akan lahir buah-buah kebaikan yang bermanfaat bagi masyarakat. Dengan begitu, kemerdekaan tidak hanya kita rayakan setiap tahun, tetapi benar-benar kita rawat melalui karya, persatuan dan kontribusi nyata untuk Kota Sukabumi dan Indonesia.
Dirgahayu Republik Indonesia.
Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur.
Merdeka!
Kang Ugo
Wakil Ketua KNPI Kota Sukabumi
Bidang Pemerintah Daerah & Kebijakan Publik








