Gen Z Diajak Kembali ke Desa, bank bjb Dorong Potensi Lokal Jadi Peluang Ekonomi

BERITA231 views

SERANG – Desa kini tak hanya dipandang sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai ruang untuk membangun usaha dan masa depan. Potensi lokal yang selama ini ada di tengah masyarakat dinilai bisa menjadi peluang ekonomi baru, terutama jika dikelola dengan kreativitas dan sentuhan teknologi.

Semangat itu mengemuka dalam Kick Off Festival Duta Desa Gen Z 2026 yang digelar di Alun-Alun Kramatwatu, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang, Banten, Sabtu (29/8/2026).

Mengusung tema “Kembali Ke Desa, Tajir Melintir”, kegiatan tersebut mengajak generasi muda untuk tidak selalu memandang kota sebagai satu-satunya tempat mencari peluang. Justru, berbagai potensi yang ada di desa dinilai dapat menjadi sumber penghasilan apabila mampu dikembangkan sesuai kebutuhan zaman.

Kegiatan ini mempertemukan pemerintah, dunia usaha, perbankan, organisasi desa, dan generasi muda. Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal RI Yandri Susanto serta Wakil Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal RI Ahmad Riza Patria turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Dari Pemerintah Provinsi Banten hadir Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Provinsi Banten Gunawan Rusminto yang mewakili Gubernur Banten. Hadir pula Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah beserta jajaran pemerintah daerah, para camat dan kepala desa se-Kabupaten Serang, serta sejumlah pimpinan asosiasi dan organisasi desa tingkat nasional.

Sementara dari bank bjb hadir Direktur Operasional bank bjb Herfinia, CEO Regional 4 bank bjb Mohammad Mufti, dan Pemimpin Cabang bank bjb KCK Banten Faridha Siregar.

Dalam kegiatan tersebut, bank bjb turut mendorong keterlibatan anak muda dalam membangun aktivitas ekonomi di tingkat desa. Salah satunya melalui program Gen Z Bisa yang membuka ruang bagi generasi muda untuk berperan sebagai Agen Laku Pandai atau Agen bjb Bisa.

Melalui peran tersebut, anak muda tidak hanya mendapatkan peluang penghasilan tambahan, tetapi juga membantu masyarakat di wilayah perdesaan memperoleh akses layanan keuangan tanpa harus selalu datang ke kantor bank.

Salah satu Agen bjb Bisa, Muhammad Ribkhi Aprilaganta, mengaku masyarakat awalnya masih asing dengan layanan tersebut. Namun, setelah mencoba, warga mulai merasakan manfaatnya.

“Awalnya warga sempat kaget, tetapi setelah mencoba membayar PBB, pajak kendaraan, hingga transfer, mereka merasakan prosesnya cepat dan praktis tanpa perlu antre. Bagi saya, selain mendapatkan penghasilan tambahan, menjadi Agen bjb Bisa juga memberikan kepuasan karena dapat membantu warga desa,” ujar Muhammad Ribkhi.

Menurutnya, anak muda tidak harus menunggu memiliki usaha besar untuk mulai mengambil peran dalam pembangunan ekonomi desa.

“Jangan ragu melangkah dari hal kecil. Gen Z Bisa, Bangun Desa, Bangun Indonesia. Yuk, bergerak bersama bjb Bisa,” tuturnya.

Semangat kembali ke desa juga tidak berarti meninggalkan perkembangan teknologi. Sebaliknya, teknologi dan kreativitas generasi muda dapat menjadi modal untuk mengangkat berbagai potensi yang selama ini mungkin belum tergarap secara maksimal.

Mulai dari produk UMKM, pertanian, pariwisata, ekonomi kreatif, perdagangan hingga usaha berbasis digital, desa memiliki banyak ruang yang dapat dikembangkan menjadi sumber ekonomi baru.

Namun, potensi tersebut membutuhkan ekosistem pendukung, termasuk akses terhadap layanan keuangan. Kemudahan transaksi dan akses pembiayaan dapat menjadi bagian penting dalam membantu pelaku usaha muda mengembangkan bisnisnya secara berkelanjutan.

Bagi bank bjb, keterlibatan dalam Festival Duta Desa Gen Z 2026 menjadi bagian dari upaya memperluas akses keuangan sekaligus mendorong kolaborasi antara perbankan, pemerintah, masyarakat desa dan generasi muda.

Program tersebut juga menunjukkan bahwa pemberdayaan anak muda tidak selalu harus dimulai dari pusat kota. Dengan dukungan ekosistem yang tepat, desa pun dapat menjadi tempat lahirnya pelaku usaha dan inovasi baru.

Melalui tema “Kembali Ke Desa, Tajir Melintir”, generasi Z diajak melihat desa dengan perspektif berbeda. Bukan sebagai wilayah yang harus ditinggalkan untuk mengejar masa depan, tetapi sebagai tempat yang memiliki potensi untuk dibangun, dikembangkan, dan menjadi sumber kesejahteraan bagi masyarakatnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed