Kasus DBD di Kota Sukabumi Tembus 402 Kasus hingga Agustus 2026

BERITA, SUKABUMI138 views

 

SUKABUMI – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Sukabumi menunjukkan tren peningkatan di tengah berlangsungnya musim kemarau. Hingga Agustus 2026, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Sukabumi mencatat sebanyak 402 kasus DBD sejak awal tahun.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Sukabumi, Denna Yuliavina, mengatakan peningkatan kasus mulai terlihat memasuki pertengahan 2026. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena DBD selama ini lebih sering dikaitkan masyarakat dengan musim hujan.

Menurutnya, periode Mei hingga Agustus menjadi salah satu fase dengan kenaikan kasus yang cukup mencolok. Pada Mei tercatat 49 kasus, kemudian meningkat menjadi 61 kasus pada Juni. Sementara pada periode Juli hingga Agustus, jumlah kasus mencapai 83 kasus.

“Yang naik itu justru adalah DBD. Jadi walaupun masyarakat tahunya DBD itu saat musim penghujan, saat ini justru harus waspada di musim kemarau,” kata Denna.

Dinkes Kota Sukabumi mencatat angka kejadian DBD atau incident rate (IR) masih berada pada level tinggi, yakni sekitar 107 kasus per 100.000 penduduk. Angka tersebut masih jauh di atas target yang ditetapkan, yaitu maksimal 10 kasus per 100.000 penduduk.

Wilayah Kecamatan Citamiang menjadi salah satu daerah dengan jumlah kasus DBD paling tinggi. Kepadatan penduduk di kawasan tersebut disebut menjadi salah satu faktor yang turut memengaruhi tingginya penularan.

Meski jumlah kasus terus bertambah, hingga saat ini Dinkes Kota Sukabumi belum mencatat adanya kematian akibat DBD pada periode tersebut.

Kemarau Bukan Berarti Bebas dari Ancaman DBD

Denna menjelaskan, kondisi kemarau justru tetap dapat menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti, terutama ketika masih terdapat tempat-tempat yang menampung air.

Telur nyamuk Aedes aegypti memiliki kemampuan bertahan dalam kondisi kering hingga sekitar enam bulan. Ketika kembali terkena air, telur tersebut dapat berkembang dan menetas.

Genangan dalam jumlah sedikit pun berpotensi menjadi tempat berkembang biak, misalnya air yang tertampung di talang, wadah terbuka maupun barang-barang yang berada di sekitar rumah.

Kenaikan temperatur selama musim kemarau juga dapat mempercepat siklus perkembangan nyamuk. Dalam kondisi tertentu, proses yang biasanya berlangsung sekitar enam hingga 12 hari dapat menjadi lebih cepat ketika suhu lingkungan meningkat.

“Kasus DBD ini justru tinggi di bulan Juli dan Agustus padahal musim kemarau. Suhu yang lebih panas membuat telur nyamuk menetas lebih cepat,” jelasnya.

Nyamuk Aedes aegypti diketahui lebih aktif menggigit pada pagi hingga siang hari. Kondisi tersebut membuat anak sekolah maupun masyarakat usia produktif yang banyak beraktivitas pada waktu tersebut tetap memiliki risiko terpapar.

PSN dan 3M Plus Jadi Kunci Pencegahan

Dinkes Kota Sukabumi mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap musim kemarau sebagai kondisi aman dari DBD. Upaya pencegahan harus dilakukan secara rutin dengan memutus tempat berkembang biaknya nyamuk.

Salah satu cara utama yang dianjurkan adalah Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M Plus, yakni menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah yang dapat menampung air, serta mendaur ulang atau menyingkirkan barang bekas yang berpotensi menjadi tempat genangan.

“Masyarakat harus memperhatikan kondisi lingkungan. PSN melalui 3M Plus jangan sampai dilupakan,” ujar Denna.

Selain menjaga kebersihan lingkungan, masyarakat juga diminta rutin memeriksa area rumah dan sekitarnya, terutama tempat-tempat yang berpotensi menampung air meskipun jumlahnya sedikit.

Fogging Bukan Solusi Utama

Dinkes Kota Sukabumi juga mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan fogging sebagai cara utama untuk mencegah DBD.

Pengasapan merupakan langkah penanggulangan yang dilakukan ketika terdapat indikasi tertentu berdasarkan hasil penyelidikan epidemiologi (PE) oleh Puskesmas. Pelaksanaannya pun harus melalui prosedur dan izin yang sesuai.

Dengan demikian, pencegahan paling penting tetap berada pada masyarakat melalui PSN dan penerapan 3M Plus secara konsisten.

“Fogging itu bukan pencegahan utama. Yang paling penting adalah bagaimana masyarakat memberantas sarang nyamuk dan menjaga lingkungan agar tidak menjadi tempat berkembang biaknya Aedes aegypti,” pungkasnya.

Dengan jumlah kumulatif 402 kasus DBD sepanjang Januari hingga Agustus 2026, masyarakat Kota Sukabumi diimbau meningkatkan kewaspadaan tanpa bergantung pada kondisi musim. Kebersihan lingkungan dan pemberantasan sarang nyamuk perlu dilakukan secara rutin untuk menekan risiko penularan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed